Mengenal Lebih Dekat: Tim Media Sosial Prodi Akuntansi UII

Media sosial merupakan salah satu sarana penghubung yang paling manjur bagi sebuah institusi dan audiensnya. Kekinian, mulai dari Instagram, Youtube, hingga Twitter pun menjadi beberapa platform yang ramai digunakan oleh institusi-institusi. Mulai dari lembaga pemerintahan, perusahaan, hingga sekolah maupun universitas pun turut serta meramaikan perkembangannya. Tak kalah, Program Studi Akuntansi Universitas Islam Indonesia juga terus mengikuti perkembangan tren yang ada melalui sosial media resminya. Mulai dari Instagram, Twitter, Youtube, dan Website resmi Prodi Akuntansi UII terus memberikan update informasi-informasi dengan cara milenial.

Tentunya setiap media sosial memerlukan pengelolaannya masing-masing, begitupun dengan sosial media Prodi Akuntansi UII. Prodi Akuntansi UII memiliki tim khusus untuk mengelola semua social media resminya. Mulai dari content creator, copywriter, hingga social media admin di-handle oleh tim ini. 

Copywriter Instagram

Narendra, sebagai Person-in-Charge (PIC) Copywriter Instagram (accounting.uii), bercerita selama ia membuat konten sosial media. Ia tidak hanya membuat konten, tetapi juga membuat caption dan melakukan identifikasi ulang sebelum melakukan publikasi. Hal ini dilakukan untuk meminimalisasi kesalahan dan kesesuaian konten.

Copywriter Twitter

Berlian (PIC Twitter) menerangkan tugasnya selama mengelola akun twitter Akuntansi UII (Accounting_UII). Sebagai PIC sendiri bertugas untuk memantau tren pasar dan menyesuaikannya dengan goals yang ingin dicapai.

“Soalnya seperti yang kita tahu kalo pergerakan di sosial media itu cepet banget. Jadi tetap perlu penyesuaian-penyesuaian biar tetep gak ketinggalan jaman. Juga, mengelola konten yang menarik agar engagement ttp bisa sesuai harapan. Seru sih! Banyak hal-hal baru yang bisa dipelajari selama berproses bersama Tim Media Prodi Akuntansi UII,” ucap Berlian.

Design

Ivana (PIC Design Twitter) menjelaskan selain mendesain konten, tim desain juga melakukan pengecekan ulang apakah konten termasuk sensitive atau perlu diubah agar menjadi lebih menarik. Antar anggota Tim Desain mempunyai kebiasaan untuk saling memberikan masukan design satu sama lain dan memberikan reminder.

Admin

Ridani (PIC Admin) menjelaskan secara garis besar tugas admin adalah memposting konten yang telah dibuat di akun Akuntansi UII baik Instagram maupun Twitter. Admin juga dituntut untuk aktif membalas komen ataupun direct message. Terkait pelaporan insight setiap postingan juga dicantumkan ke Editorial Planning.

Jurnalis

Retno (PIC Website) bercerita bahwa tugas utama seorang jurnalis adalah menulis artikel untuk diupload di website Akuntansi. Artikel dapat meliputi berita event yang diselenggarakan oleh Prodi Akuntansi, prestasi mahasiswa, hasil wawancara, hingga ringkasan artikel ilmiah.

Menjadi bagian dari Tim Media Sosial Prodi Akuntansi UII merupakan sebuah hal yang membanggakan. Selain tentunya menambah banyak wawasan baru, bergabung menjadi bagian tim juga secara langsung telah mendukung dalam perkembangan Prodi Akuntansi UII itu sendiri. Kalian gimana nih, Sob.. tertarik? Yuk ikuti Open Recruitment Tim Media Sosial Prodi Akuntansi melalui tautan ini! (Retno/Berlian)

Perkembangan Fintech Syariah di Indonesia

Perkembangan teknologi yang masif mengakibatkan berbagai layanan keuangan turut berkembang pesat. Karena inilah Otoritas Jasa Keuangan (OJK) bersama Bank Indonesia ikut memperhatikan perkembangan yang ada. Pengawasan terhadap fasilitas transaksi keuangan secara online, atau yang kemudian kita sebut dengan Fintech (Financial Technology) ketat dilakukan. OVO, Gopay, Shopeepay, Kredivo merupakan beberapa contoh Fintech yang umum digunakan oleh masyarakat Indonesia.

Sayangnya ASEAN pertumbuhan jumlah Fintech melambat pada tahun 2021. Mengutip Laporan Fintech in ASEAN 2021 melalui Katadata, pada 2018 jumlah perusahaan Fintech bertambah 586 perusahaan, namun sayangnya berkurang menjadi 411 perusahaan pada tahun 2019. Kemudian pada tahun 2021 hanya bertambah 107 perusahaan. 

Pada kuartal kedua 2020, Asosiasi Fintech Indonesia menyebutkan jumlah penyedia layanan pembayaran dompet digital mengalami kenaikan seperti pada bagan di bawah ini.

 Sumber: Databoks Katadata

Penggunaan Fintech sudah tidak bisa dilepaskan dalam kehidupan sehari-hari terutama oleh generasi muda. Menurut laporan Asosiasi Fintech Indonesia melalui Katadata, mayoritas pengguna Fintech jika ditilik dari rentang usia, berada pada rentang 25-35 tahun.

Sebelum menilik lebih jauh, menurut Otoritas Jasa Keuangan (OJK), Fintech merupakan sebuah inovasi pada industri jasa keuangan yang memanfaatkan penggunaan teknologi. Sedangkan Fintech syariah merupakan layanan atau produk keuangan yang menggunakan teknologi dengan basis skema syariah (Rusydiana, 2018). Kemunculan Fintech syariah di Indonesia merupakan respon terhadap perkembangan perusahaan Fintech konvensional yang menggunakan instrumen bunga dalam operasionalnya (Muhammad & Lanaula, 2019). Layanan Fintech syariah di Indonesia diatur dalam fatwa Dewan Syariah Nasional-Majelis Ulama Indonesia (DSN-MUI) nomor 117/DSN-MUI/II/2018 tentang Layanan Pembiayaan Berbasis Teknologi Informasi berdasarkan Prinsip Syariah.

Fintech syariah mempromosikan keuangan yang bertanggungjawab secara etis dan menghadirkan peluang untuk memimpin dan mempengaruhi semua bentuk keuangan secara global (Rusydiana, 2018). Pertumbuhannya pun menunjukkan angka yang positif dari waktu ke waktu. Dilansir dari Katadata, merujuk pada Global Fintech Islamic Report 2021, layanan Fintech syariah di Indonesia berada pada urutan kelima. Dalam laporan tersebut, pasar Fintech syariah di Indonesia mencapai Rp 41,7 triliun atau US$ 2,9 miliar. Asosiasi Fintech Syariah Indonesia (AFSI) mencatat saat ini jumlah Fintech syariah terdapat 17 Fintech yang sudah berizin operasional, terdiri dari peer-to-peer lending, inovasi keuangan digital, dan securities crowdfunding. Jumlah tersebut masih cukup sedikit mengingat Fintech syariah masih termasuk baru di Indonesia. 

Pertumbuhan Fintech syariah di Indonesia memiliki potensi dan peluang yang sangat besar, mengingat negara ini mempunyai penduduk muslim terbesar di dunia. Banyaknya kaum muda yang mulai aware terhadap transaksi syariah juga menjadi kesempatan yang menjanjikan bagi pasar Fintech di Indonesia. 

Rusydiana (2018) menerangkan dalam artikelnya selain memiliki peluang yang cukup besar, tetapi Fintech syariah juga menghadapi permasalahan dan tantangan dalam perkembangannya antara lain yakni masih kurangnya instrumen kebijakan yang mengatur proses kerja, ketersediaan sumber daya manusia, risiko keamanan yang tinggi dan belum menjangkau ke konsumen kelas bawah. (retno/berlian)