Sharing Session: Mengapa Harus International Program Accounting UII?

Prodi Akuntansi kembali menyelenggarakan webinar bertajuk Sharing Session International Program (IP) Accounting UII dengan mendatangkan beberapa alumni. Sharing Session yang berlangsung pada Senin (25/06) ini, memberikan informasi mengenai IP Accounting UII dan berbagi kisah pengalaman alumni selama kuliah dan selepasnya dari program ini.

Pemaparan informasi IP Accounting UII dibawakan oleh Ayu Laksmi S.E., M.AppCom., M.Res., Ph.D. Ak, CA selaku Sekretaris International Program Accounting UII. Kemudian dilanjutkan sharing session oleh alumni IP Accounting, Hanna Nisaur Rosyda Firdaus dan Ahmad Dhiyaullatief Bachtiar

Acara ini dibuat untuk para calon mahasiswa yang mempunyai ketertarikan akan IP Accounting UII. Kegiatan diawali dengan sambutan oleh Rifqi Muhammad S.E., S.H., M.Sc., Ph.D., SAS., ASPM Sekretaris Program Studi Akuntansi Program Sarjana. Rifqi menyampaikan bahwasannya IP Accounting tidak hanya memberikan pengetahuan hardskill dan softskill, tetapi juga memberikan wawasan internasional.

Dalam Sharing Session tersebut, Ayu memaparkan terkait dengan program-program yang akan dijalankan dan didapatkan mahasiswa setelah bergabung di IP Accounting UII. Ayu menjelaskan terkait sistematika Pendaftaran Mahasiswa Baru (PMB) IP Accounting Program Sarjana (S1) di pertengahan 2022. Kategori pola seleksi PMB dapat diakses lebih lanjut di laman pmb.uii.ac.id. Dijelaskan juga, selain jalur PMB, IP Accounting UII dapat diikuti mahasiswa melalui  jalur transfer dari program reguler. Syarat dan informasi lainnya dapat menghubungi Alfi Zakiya melalui email ([email protected]) atau WA/Call (081329358672). 

Dilanjutkan kembali oleh Ayu dengan pemaparan mengenai penawaran program dari IP Accounting UII, yaitu International Student Mobility (ISM). Adapun program yang termasuk ke dalam ISM adalah Double Degree Program, Study Exchange Program, Association Internationale des Etudiants en Sciences Economiques of Commerciales (AIESEC), dan Passage to ASEAN (P2A). Program unggulan lainnya dari IP Accounting UII adalah sertifikasi internasional ACCA (Association of Certified Chartered Accountants) dari United Kingdom (UK) sejak tahun 2016. 

Sharing Session pertama dibawakan oleh Hanna, mahasiswi Double Degree Program tahun 2016 di Nanjing Xiaozhuang University, China. Hanna mengungkapkan pengalamannya mengikuti program tersebut mulai dari mendapatkan mata kuliah Business International dan mempelajari business entrepreneur. Hingga kesempatan menjuarai kompetisi bersama teman-teman double degree lainnya. Tidak hanya kuliah, Hanna memperbanyak relasi dengan mengikuti Perhimpunan Pelajar Indonesia-Tiongkok dan juga Persatuan Pelajar Nanjing Xiaozhuang University.

Ahmad Dhiyaullatief Bachtiar, biasa disapa Mas Alex, kini menjabat sebagai Analyst Management Accounting PT Pertamina Patra Niaga, menyampaikan hal yang sama. Alasan utama Mas Alex mendaftar IP Accounting UII, yaitu Industry 4.0 yang menuntut Sumber Daya Manusia (SDM) untuk Go International dengan bahasa utama, Bahasa Inggris. Selama kuliah, Mas Alex turut menggunakan Bahasa Inggris dalam berkomunikasi.

Selama di IP Accounting diwajibkan pakai Bahasa Inggris untuk melatih speaking kita sehari-hari. Secara casual untuk di luar dan formal untuk di kelas. Jadi, kita dapat dua-duanya, english proficiency yang profesional sama english proficiency yang casual,” ungkap Mas Alex.

Di akhir acara, dilanjutkan sesi tanya jawab oleh calon mahasiswa IP Accounting UII dengan para narasumber. Pertanyaan yang diajukan cukup beragam, seputar IP Accounting UII hingga tips mengikuti perkuliahan di Akuntansi FBE UII.

Untuk lebih lengkapnya, simak Sharing Session ini di Youtube Accounting UII.

 

Tutur Alumni: Ridho Orang Tua Salah Satu Penentu Karir

Tutur Alumni kembali dengan membawa cerita menarik dari salah satu alumni Akuntansi UII.  Elleriz Aisha Khasandy yang merupakan alumni akuntansi Angkatan 2009 dan saat ini bekerja di Otoritas Jasa Keuangan (OJK) sebagai Kepala Sub bagian pemeriksaan di sektor pasar modal. Dalam kesempatan tersebut, Elleriz membagikan pengalamannya selama berkuliah di Program Studi Akuntansi UII dan kunci dalam dalam bekerja.

Pada awalnya, ia sama sekali tidak berpikir bahwa akuntansi akan menjadi hal yang ia pelajari selama kuliah. Hal ini menjadi terjadi karena sang ayah yang merupakan seorang dosen merekomendasikan hal tersebut, dengan FBE UII sebagai tujuan utama. Namun, perjalanan perkuliahan Elleriz tidak semulus itu, ia sempat mendapatkan nilai jelek untuk ujian mata kuliah akuntansi pengantar yang membuat dirinya down

“UTS akuntansi pengantar saya dapatnya 40. Ya ampun itu shock banget, saya sampai nangis padahal teman-teman lain nilainya bagus,” ujar Elleriz. 

Hal tersebut  tidak lantas membuatnya menyerah justru sebaliknya, ia mampu bangkit dan membuktikan bahwa dirinya mampu yang akhirnya hal itulah yang mengantarkannya menjadi asisten dosen untuk mata kuliah tersebut di semester akhir. 

Selain berkuliah, Elleriz juga aktif di kegiatan organisasi yaitu Himpunan Mahasiswa Jurusan Akuntansi (HMJA). Menurutnya, hal inilah yang mengantarkan ia dikenal oleh dosen karena selama bergabung di HMJA sering ditunjuk untuk menjadi MC acara. Setelah lulus kuliah, Elleriz sempat bekerja sebagai asisten audit di Lembaga Audit Badan Wakaf Universitas Islam Indonesia sembari menjadi asisten dosen.

Mendapatkan posisi saat ini tentu tidak mudah, terhitung sudah 8 tahun Elleriz bekerja di Otoritas Jasa Keuangan (OJK). Selama kurang lebih 6 tahun, Elleriz berada di pengawasan pasar modal syariah dan kemudian pada tahun 2019 menjadi Kepala Sub bagian pemeriksaan di sektor pasar modal. Dalam prosesnya ia sempat mengalami putus asa lantaran tak kunjung mendapatkan pekerjaan yang sesuai. “Orang tua saya ingin saya kerja yang lebih settle. Tapi beberapa kali saya mendapatkan tawaran sekiranya saya cocok, orang tua engga dan juga sebaliknya. Akhirnya saya sudah desperate banget,” ujar Elleriz. Menurutnya ridho orang tua lah yang terpenting dalam melakukan suatu hal termasuk dalam mencari pekerjaan.

Ia juga menjelaskan banyak ilmu yang dipelajari di Akuntansi UII yang kemudian diterapkan dalam dunia kerja, terlebih lagi saat ia menjabat sebagai pengawas pasar modal syariah. Hal ini dikarenakan ilmu yang dipelajari di Akuntansi UII sudah beberapa langkah lebih maju. Tidak hanya itu, Elleriz juga menambahkan tentang ilmu lain yang ia pelajari selama berkuliah. 

“Sistem pendidikan yang saya dapatkan tidak hanya ilmu tapi ada ilmu yang lain juga, di mana banyak dosen yang memasukan perkuliahaan karakter untuk membangun mahasiswa dan juga tidak lupa memasukan nilai-nilai islam,” ucap Elleriz.

Di akhir, Elleriz membagikan satu prinsip yang selalu ia pegang sejak kuliah hingga saat ini.

“Ada satu hal yang selalu saya yakini dari dulu hingga sekarang dan jadi itu menjadi pegangan. Ketika saya sedang mengerjakan sesuatu bunyinya seperti ini siapa yang benar di jalan Allah SWT maka akan terbukalah jalan,” tutupnya.

Selengkapnya dapat dilihat di Youtube Prodi Akuntansi UII atau dengan mengklik link berikut ini. Serta jika tertarik untuk menempuh pendidikan seperti Ellriz, segera bergabung dengan kami melalui pmb.uii.ac.id.

Menilik Persiapan para Mahasiswi Akuntansi FBE UII dalam memperoleh sertifikasi ACCA

Beberapa mahasiswa Akuntansi FBE UII baru saja lulus mengikuti ujian modul sertifikasi Association of Chartered Certified Accountants (ACCA). Terdapat lima mahasiswa yang lulus pada ujian kali ini yakni, Septi Dyah Anggraeni, Salsabila Nadhifa, Nelva Qablina, Qurrotul Aini, dan Afifah Rohadatul Aisy. Pada kesempatan kali ini kami berkesempatan mewawancarai Septi, Nelva, dan Afifah.

Untuk berkesempatan mengikuti ujian modul ini, sebelumnya mahasiswa tersebut harus mengikuti kelas ACCA yang tersedia di Prodi Akuntansi. Kelas ini dimulai sejak semester kedua setelah mahasiswa tersebut memenuhi beberapa persyaratan. Saat diwawancarai secara online, Afifa mengungkapkan terdapat perbedaan course yang dipelajari.

Mahasiswa ACCA baik International Program maupun Reguler akan disatukan dalam satu kelas dikarenakan materi yang dipelajari menggunakan kurikulum dari ACCA. Langsung sesuai dengan syllabus per modul yang akan dipelajari,” tutur Afifah.

Septi menambahkan dari segi materi perkuliahan kurang lebih sama dengan kelas regular. Septi merasa berada di kelas ACCA ini, ia lebih mendalami beberapa chapter tertentu dan jumlah antara teori dengan prakteknya seimbang.

Lebih lanjut, perbedaan kelas ACCA dengan kelas yang biasanya, misalnya pada semester 4 di kelas ACCA mempelajari modul Financial Management. Mata kuliah Manajemen Keuangan 1 dan 2 dipelajari dalam satu semester. Ataupun kelas Auditing dan Akuntansi Keuangan Lanjutan akan dipelajari pada semester lima dalam modul Financial Reporting dan Audit Assurance. Tidak hanya itu, setiap pemegang gelar ACCA dapat memperoleh pengakuan pada beberapa negara yang sudah melakukan Mutual Agreement (MRA) dengan ACCA.

Nelva bercerita bahwa dirinya saat ini sudah menempuh tahun kedua di kelas ACCA dan telah mempelajari tiga modul yakni Management Accounting (MA) , Financial Accounting (FA), dan Financial Management. Selama mengikuti kelas ACCA, Nelva merasakan berbagai hal yang mengenakkan dan tidak. “Kalo enaknya itu menurutku lebih mudah memahami materinya, dari kampus itu disediain learning provider di luar kelas buat nyiapin exam. kalo ga enaknya di kelas ACCA itu harus punya effort lebih soalnya kita kan nyiapin buat ujian ACCA nya gitu. terus sebelum UTS atau UAS ada mock exam dulu, mock examnya itu biasanya 3 kali jadi ya perlu effort lebih di mock exam selain UTS dan UAS,” tutur Nelva.

Tentunya dalam menempuh ujian modul ini terdapat kesulitan tersendiri. Afifa yang sebelumnya gagal dalam menempuh ujian modul Management Accounting pada bulan Maret 2021, langsung merubah strategi belajarnya. “Modul Management Accounting hitungannya sedikit, tetapi banyak hafalan dan analisis. Modul ini mengarahkan kita hal apa saja yang harus diperhatikan sebelum mengambil keputusan (Decision making) dan menyusun strategi perusahaan,” ujar Afifah

Sedangkan Nelva menyatakan untuk modul FA ia belum merasa susah dalam ujian modul tersebut karena materi yang diujikan masih dasar-dasar Accounting. “Menurutku susahnya di beberapa soal yang tricky gitu jadi kalo udah memahami konsep dasar terus rajin bahas soal pas ujian itu udah agak familiar sama tipe soalnya jadi udah agak gampang si jawab ujiannya,” ujar Nelva.

Afifah mempersiapkan ujian modulnya sejak tiga bulan sebelumnya. Setiap menyelesaikan satu materi, latihan soal pun ia tuntaskan. Lebih mendalam satu minggu sebelum ujian, Afifa mengakses latihan soal dari website official ACCA dengan membayar kurang lebih 7 euro. Dalam latihan soal tersebut, tersedia analisis kelemahan yang dimiliki dalam silabus tersebut. Dengan demikian, kelemahan tersebut dapat diperbaiki.

Selain itu, Prodi Akuntansi UII juga menyediakan akses soal dari laman Acowtancy.com yang dapat diakses di mana dan kapan saja. Dosen ACCA UII pun menyediakan revision kit untuk memperbanyak latihan soal mahasiswa.

Tertarik dengan sertifikasi ACCA, yuk bergabung dengan akuntansi UII dengan mendaftar pada laman pmb.ac.uii.id. (retno/utami)

 

Mahasiswa Akuntansi UII Lolos Pendanaan PKM-K 2022

Mahasiswa Akuntansi FBE UII kembali menorehkan prestasi yakni lolos pendanaan Program Kreativitas Mahasiswa Kewirausahaan (PKM-K) Tahun 2022 yang diselenggarakan Ditjen Dikti Ristek. Tim ini terdiri dari lima mahasiswa, yaitu Havis Gilang Pratama, M. Isnanda Nurman, Adizza Djasmine Setiawan, Dhea Khansa Nabila, dan Siti Ashila Rahma Utama. Adapun topik yang diangkat tim tersebut adalah “HealBag, Inovasi Totebag 3 in 1 Dengan Radiasi Batu Tourmaline Sebagai Media Terapis Alami.”

Menurut Havis, selaku ketua tim, pengambilan ide tersebut terinspirasi dari proposal PKM mahasiswa akuntansi UII, Siti Azza Nur Aisah, yang berjudul “Bantalankuy” yang juga menggunakan batu tourmaline sebagai media terapis. Dari sanalah kemudian Havis dan teman-teman mengembangkan ide tersebut dengan melihat keluhan mahasiswa yang sering merasakan pegal-pegal.

Havis menambahkan, produk tote bag yang diberi nama Healbag ini menjadi solusi bagi kalangan masyarakat, khususnya pekerja kantor dan mahasiswa. Di mana banyak dari mereka menghabiskan waktu di depan laptop atau komputer dan mobilitas kerja yang tinggi. Melalui produk ini, diharapkan dapat memberikan fungsi sebagai tas, alat terapis pinggang, dan bantalan duduk yang fleksibel untuk dibawa.

Havis mengungkapkan perasaan senang dan tidak menyangka ketika mengetahui timnya lolos pendanaan PKM. Tentunya berbagai tantangan dihadapi Havis dan teman-teman. Mulai dari kurangnya pengalaman dalam membuat proposal dan tidak banyak referensi yang dimiliki. Timnya juga kesulitan menemukan waktu yang pas untuk berdiskusi hingga kesulitan dalam pembuatan ilustrasi produk karena keterbatasan kemampuan. Dibalik kesulitan yang dihadapi, mereka tetap menyelesaikan proposal dengan baik. “Sangat bangga sekaligus gembira, karena kerja keras kami selama ini membuahkan hasil yang memuaskan. Kebetulan ini adalah keikutsertaan kami yang pertama kali di PKM dan Alhamdulillah langsung lolos pendanaan,” ujar Havis.

Untuk rencana ke depannya Havis dan tim akan memastikan jumlah peminat sebelum diperjualbelikan secara luas. Selain itu, produk akan dipastikan kualitasnya sebelum dipasarkan. “Apabila produk kami banyak diminati masyarakat luas tentu akan menjadi pertimbangan untuk kami kembangkan lagi menjadi produk yang akan diperjualbelikan secara luas, selain itu kami sendiri akan memastikan kualitas dari produk kami agar layak untuk dipasarkan secara luas” tutup Havis.

Havis berpesan, khususnya bagi mahasiswa akuntansi UII yang memiliki ketertarikan akan PKM dan memiliki ide-ide kreatif yang bernilai jual, jangan takut mencoba. Havis menambahkan, bagi mahasiswa yang kesulitan dalam pengambilan ide, PKM Corner UII siap membantu dan membimbing hingga akhir. Dalam keterangannya yang terakhir, Havis mengajak teman-teman untuk mengikuti PKM tahun depan. “Jadi tunggu apalagi, yuk siapkan tim dan ide mulai dari sekarang untuk daftar PKM tahun depan!” tutup Havis. (Chasil/Retno)